Selasa, 22 November 2011

Digital Photography


Oleh: Bapak Didit Anindita (09/11/2011)

Fotografi kini berkembang dan mempengaruhi hampir segala aspek kehidupan manusia. Tidak hanya penerapannya, teknologi fotografi juga mengalami perkembang yang pesat. Perkembangan teknologi fotografi ini ditandai dengan semakin berkembangnya beragam jenis kamera yang semakin canggih  yang digunakan untuk melakukan kegiatan fotografi dan adanya program yang dapat digunakan untuk mengedit foto.

Dalam kelas kapita selekta kali ini, pembicara yang merupakan seorang fotografer proffesional menjelaskan bahwa seorang fotografer harus dapat memperhatikan berbagai hal teknis kamera seperti diafragma, ISO, lighting dan sebagainya dalam mengambil gambar suatu objek.  Biasanya foto atau data mentah (RAW) yang di ambil oleh fotografer sebelum dicetak di-convert terlebih dulu keformat foto berupa JPEG, TIFF, PDF, PSD untuk memudahkan fotografer mengedit foto tersebut.

Salah satu program yang sering digunakan untuk mengedit foto yaitu Photoshop. Photoshop adalah perangkat lunak yang dkhusukan untuk pengeditan gambar atau foto dan pembuatan efek. Dengan menggunakan program edit foto tersebut semua elemen gambar foto seperti kecerahan gambar, kontras, permainan warna dan elemen-elemen lain dapat diedit semaksimal mungkin sesuai dengan hasil foto yang di inginkan.

Content Analysis “Jakarta Lawyers Club”


Oleh : Bapak Iskandar Siahaan (02/11/2011)

Pada perkuliahan kapita selekta kali ini, pembicara menjelaskan mengenai pentingnya content analysis pada sebuah program acara TV. Content Analysis(analisis isi) merupakan penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi atau muatan teks terhadap suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Teks dalam analisis isi bukan hanya sekedar kata-kata melainkan termasuk makna gambar, simbol, gagasan, tema dan lain sebagainya yang dapat dikomunikasikan. Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, baik itu surat kabar, berita radio, iklan televisi, program tv maupun semua bahan-bahan dokumentasi lainnya. Program TV yang menjadi contoh dalam pembahasan content analysis  ini yaitu “Jakarta Lawyers Club”.

Program TV Jakarta Lawyers Club  adalah sebuah acara dialog interaktif tv yang disajikan oleh tvOne yang mengangkat pembahasan-pembahasan mengenai isu nasional yang aktual yang berkisar antara gejolak politik, sosial, penegakan hukum dan lain-lain. Acara televisi yang ditayangkan di TV one setiap hari selasa malam ini dibawakan oleh pemimpin redaksi TV One Karni Ilyas. Jakarta Lawyers Club yang berdurasi satu jam pada setiap episodenya dimaksudkan untuk pencerahan masyarakat umum agar mendapatkan informasi yang aktual, tajam, terpercaya dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, dengan mengahdirkan para prkatisi hukum , KPK, KPU, MK, perwakilan partai politik, unsur Polri, Jaksa dan unsur lainnya yang terkait dengan penegakan hukum dan suasana politik saat ini.

Berikut content analysis pada program TV Jakarta Lawyers  Club (JLC) yang dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu:
  1. Topik. Dalam melakukan analisis isi topik suatu program acara harus menganalisis berapa banyak topik yang diangkat dalam 6 bulan terakhiryang kemudian diklasifikasikan kedalam kategori yang sama.
  2. Narasumber. Cari tahu siapa saja narasumber yang terlibat dalam program TV Jakarta Lawyers Club. Apakah narasumbernya adalah lawyer yang memiliki kemampuan seorang lawyers dan memang kompeten atau tidak
  3. Audiens. Audiens yang di analisis ada 2 yaitu penonton yang dstudio dan penonton dirumah. Untuk menganalisis audiens yang dluar acara atau rumah dapat menggunakan angket atau survey.
  4. Moderator. Dalam menganalisis moderetaor, terlebih dulu bentuklah fungsi ideal dari seorang moderator kemudian bandingkan dengan fakta dilapangan apakah noderator program TV JLC sudah memenuhi fungsi idealnya sebagai moderator yang bertindak objektif
  5. Sponsor. Kita harus melihat pihak mana saja yang menjadi sponsor resmi dan apakah ada iklan terselubung atau iklan tidak resmi yang ditampilkan secara tidak sengaja selama program JLC berlangsung.
  6. Jenia acara. Berdasarkan jenis acara, kita harus melihat apakah program Jakarta Lawyers Club ini termasuk dalam jenis acara yang faktual atau non faktual.
  7. Format acara. Format acara yang dimaksudkan yaitu berupa susunan acara, dekorasi ruangan, jumlah dan susunan kursi dan lain sebagainya. Dengan menganalisis format acara kita dapat melihat apakah dengan format seperti itu selama acara atau dialog tersebu berlangsung dapat berjalan dengan baik dan dapat berlangsung secara efktif atau tidak.
  8. Alat. Alat yang dimaksud adalah segala hal yang berhubungan dengan peralatan dan perlengakapan yang dibutuhkan selama program acara tersebut berlangsung. Apakah penempatan kamera, mic dan sebagainya sudah tepat sehingga penonton seolah-olah terasa seperti berada dilokasi acara atau dstudio
  9. Waktu atau durasi. Analisis isi terhadap durasi berkaitan dengan audiens. Apakah durasi yang lama dapat mempengaruhi suasana penonton sehingga menjadi bosan? Apakah waktu yang  digunakan dapat mengupas masalah atau tidak. Pada acara JLC, durasi acara yergantung dari topik yang dibahas, jika topik dianggap menarik maka durasinya dapat diperpanjang.
  10. Nilai berita. Dalam setiap program acara harus memiliki nilai berita. Apakah program acara Jakarta Lawyers Club ini memiliki nilai berita seperti aktualisasi, kedekatan, dampak, unsur 5W + 1H  dan lain sebagainya.

Analisis isi dalam suatu program acara TV tidak hanya 10 unsur yang dapat di analisis seperti yang telah dijelaskan di atas, namun semua tergantung pada program tv, iklan tv, berita radio dan lain sebagainya yang anda analisis dan seberapa mendalam analisis yang dilakukan.

The United Nations 4 You (UN4U) Campaign 2011


Oleh : Ibu Mitra Salita & Ibu Elsa Ayu (26/10/2011)

Rabu (26/10) kemarin, Fakultas Ilmu komunikasi Universitas Tarumanagara mengadakan kuliah umum  yang bertemakan United Nations For You (UN4U) Campaign 2011. Pada kuliah umum kali ini, yang hadir sebagai pembicara adalah perwakilan dari badan organisasi UNHCR. Kunjungan perwakilan UNHCR Indonesia  ini adalah bagian dari kampanye tahunan PBB “The United Nations for You” yang bertujuan untuk merangkul anak muda, khususnya dari lingkungan universitas agar mau bergabung dan ikut serta dalam kegiatan United Nations dengan menjadi duta dari United Nations.

Kampanye UN4U (United Nations for You) diluncurkan pada tahun 2008 sebagai sebuah langkah untuk mempertemukan para pimpinan senior dan staf PBB dengan siswa-siswi dari berbagai sekolah yang berada di New York dan sekitarnya. Tujuan diadakannya kegiatan kampanye United Nations For You (UN4U) ini  adalah untuk meningkatkan kesadaran diantara pemuda mengenai kinerja PBB sebagai salah satu bagian dari perayaan UN Day atau hari jadi PBB yang dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 24 Oktober. Di Indonesia sendiri, kegiatan kampanye UN4U ini sudah menjadi suatu agenda rutin yang dilakukan oleh organisasi  UNHCR.


UNHCR (United Nations High Commission of Refugee) merupakan salah satu organisasi dibawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang didirikan oleh Majelis umum PBB sejak 14 Desember 1950  lalu yang bertujuan memberikan perlindungan dan bantuan kepada pengungsi dunia. Pengungsi yang dlindungi oleh UNHCR adalah mereka yang berada diluar negara asal kewarganegaraannya, terbukti memiliki katakutan yang mendasar dan adanya penganiayaan karena ras, agama, kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial tertentu dan tidak mendapat perlindungan dari negara tempat mereka berada. UNHCR memiliki 3 fungsi utama, yakni:
  1. Memberikan perlindungan internasional kepada orang yang tidak mendapatkan perlindungan nasional dinegara asalnya.
  2. Apabila negara asalnya telah aman, maka akan dilakukan pemulangan secara sukarela.
  3. Mempromosikan tentang hukum pengungsi internasional.

UNHCR memiliki proiritas utama di dalam pelaksanaan fungsinya. Mereka yang menjadi prioritas adalah anak-anak tanpa pendamping, wanita dengan kebutuhan khusus, korban tindak kekerasan, orang, manula dan orang-orang tanpa kewarganegaraan.  Dalam menjalankan fungsi-fungsinya, UNHCR tidak bekerja sendiri, namun memiliki mitra kerja.  Adapun yang menjadi partne(mitra kerja)dari UNHCR yaitu Implementing partner, Operational partner dan Government partner.

Dari perkuliahan umum kali ini, dapat disimpulkan bahwa badan organisasi UNHCR ini berupaya untuk memberikan bantuan, perlindungan serta membantu mensejahterakan seluruh pengungsi didunia.



Minggu, 09 Oktober 2011

Anatomi Media Penyiaran

Oleh: Bapak Paulus Widiyanto (05/10/2011)


Media penyiaran merupakan media yang digunakan untuk menyiarkan atau menginformasikan mengenai hal-hal tertentu. Dengan adanya media penyiaran seperti media televisi dan radio tentunya dapat membantu dan mempermudah penyebaran dan penyampaian informasi sehingga kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang kita inginkan.

1.      Lembaga atau institusi penyiaran
Media penyiaran pasti dimiliki oleh sebuah lembaga atau institusi. Lembaga penyiaran di Indonesia sangat beragama dapat berupa perusahaan, group, yayasan dan lainnya. Selain itu juga terdapat tiga jenis lembaga penyiaran di Indonesia yaitu lembaga penyiaran publik, swasta dan komunitas.
2.     Badan usaha / Perizinan
Badan usaha dalam lembaga penyiaran yaitu merupakan perizinan. Setiap media penyiaran harus memiliki perizinan untuk siar guna menentukan legal atau ilegalnya media penyiaran tersebut.
3.     Kepemilikan
Media penyiaran harus dimiliki oleh sekelompok orang tertentu. Kepemilikan media penyiaran di Indonesia terdiri dari beragam bentuk kepemilikan perusahaan , ada yang berbentuk perseorangan, badan hukum dan sebagainya.
4.    Konten / isi
Isi atau konten dalam sebuah media penyiaran merupakan infromasi yang disirakan dari media penyiaran tersebut. Isi dalam media penyiaran yaitu berisi program-program acara yang dapat memberikan informasi dan mengihubur audiensnya seperti program musik, berita, acara olahraga, komedi dan sebagainya.
5.     Infrastruktur
Sebagai media penyiaran tentunya juga membutuhkan infrastruktur untuk memanacrakan gelombang siarannya. Infrastruktur yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga penyiaran untuk menjalankan aktivitasnya antara lain frekuensi (analog/digital), teknologi informasi . antena pemancar, satelit dan kabel.
6.     Revenue / pendapatan
Pendapat media penyiaran biasanya berasal dari iklan yang masuk dalam media mereka. Selain itu pendapatan lain yang diperoleh oleh media penyiaran itu sendiri bisa didapatkan dari sponsor, langganan media dan saham.
7.      Sumber daya manusia
Dalam sebuah lembaga penyiaran tentunya juga memiliki sumber daya manusia atau para pekerja yang berfungsi sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sumber daya manusia yang ada dalam media penyiaran seperti wartawan, kameramen, redaktur, editor dan sebagainya.
8.     Market / pasar
Media penyiaran memiliki pasar atau area jangkauan wilayah yang dapat dicapai media.   
9.     Audiens
Media penyiaran tentunya memiliki masing-masing khalayak atau audiens yang beragam. Audiens media penyiaran dapat dibedakan berdasarkan segmentasinya.
10.   Regulator
Regulator merupakan lembaga yang mengatur tentang penyiaran yang berperan sebagai pengawas dari seluruh kegiatan media penyiaran tersebut. Lembaga yang mengatur tentang penyiaran yaitu salah satunya adalah KPPU (Komisi Pengawasan Persaingn Usaha).



Dalam melakukan siarannya media penyiaran menggunakan media elektromagnetik sebagai public domain, oleh karena itu dibutuhkan regulasi atau lembaga pengatur dalam media penyiaran agar setiap saluran tidak saling tumpang tindih. Dengan adanya regulasi tersebut kepemilikan media juga tidak dapat dimonopoli dan isi media juga dapat dibatasi dan dipastikan  tidak mengandung kekerasan sara dan pornografi. 



Minggu, 02 Oktober 2011

Media massa dan budaya massa

Oleh: Ibu Aminah Swarnawati (28/09/2011)




Media massa merupakan alat atau media yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak yang berjumlah besar secara serentak.. Media massa meliputi media cetak seperti koran dan majalah, media elektronik seperti radio dan televisi, serta media digital baru seperti internet. Namun dari semua jenis media massa tersebut, media massa yang penetrasinya lebih luas adalah media televisi karena bisa menjangkau banyak khalayak. Media massa dalam masyarkat mempunyai beberapa fungsi sosial yaitu fungsi pengawasan sosial, fungsi interpretasi, fungsi transmisi nilai dan fungsi hiburan.

Media jelas mempengaruhi khalayak melalui pesan-pesan yang disebarluaskannya secara besar-besaran. Masyarakat yang tidak terkena dampak dari media massa itu sendiri menandakan bahwa kehidupannya masih natural karena belum terpengaruh oleh kehadiran media massa. Media massa mempengaruhi khalayak dalam jangka pendek dan jangka panjang yang tanpa kita sadari kita telah terpengaruh dan dipengaruhi. Pengaruh jangka panjang sering dipersoalkan kerana mempunyai kekuatan tertentu yang dapat mempengaruhi kebudayaan khalayak yang menerima pesan.

Media massa memang berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sitem nilai, pikir dan tindakan manusia. Dampak media massa dalam sebuah masyarakat membuat persepsi baru bahwa media massa, masyarakat, budaya massa dan budaya tinggi secara simultan saling berhubungan satu sama lain.

Salah satu tema yang paling menarik tentang pengaruh komunikasi massa terhadap khalayak yang berubah menjadi ciri massa adalah terciptanya budaya massa. Budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan industri produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan pada khalayak konsumen. Sedangkan menurut Bennet dan Tumin kebudayaan massa adalah seperangkat ide bersama dan pola perilaku yang memintas garis sosial-ekonomi dan pengelompokkan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks. Budaya massa juga biasa disebut budaya populer yang diproduksi untuk pasar modal. Menurut aliran frankrut, budaya populer adalah budaya massa yang dihasilkan industri budaya untuk stabilitas maupun kesinambungan kapitalisme. Budaya massa memiliki rumusan, berulang dan bersifat permukaan, mengagungkan kenikmatan, sentimental, sesaat dan menyesatkan dengan mengorbankan nilai-nilai keseriusan, intelektualitas, penghargaan atas waktu.

Iklan dan kekerasan simbolik

Oleh: Ibu Endah Muwarni (28/09/2011)

Jika berbicara tentang komunikasi tentunya kita tidak akan terlepas dari simbol dan tanda-tanda, begitupula dengan iklan yang selalu mengaitkan simbol dan tanda-tanda untuk menunjang suatu pemasaran. Saat ini Iklan telah mengepung kita dari berbagai penjuru dan sepanjang waktu. Kemana saja kita pergi sepanjang hari, kita akan melihat iklan dimana-mana, baik itu di rumah, kantor, kampus, sekolah, stasiun, bandara maupun di tempat-tempat umum lainnya. Pengolah iklan seolah tidak akan melewatkan sejengkal tempat dan waktu untuk beriklan.

Iklan tidak hanya sekedar menunjang pemasaran atau menjual produk, tapi tanpa kita sadari iklan juga berpengaruh dalam membentuk sistem nilai, gaya hidup dan budaya kita. Iklan juga kini mengalami pergeseran fungsi,  iklan tidak hanya memvisualisasikan kualitas dan atribut dari produk yang djualnya, tetapi iklan secara perlahan-lahan juga mencoba untuk membentuk makna dan persepsi khalayak sehingga produk tersebut mempunyai arti sesuatu bagi khalayak yang melihatnya. Dalam konteks inilah iklan mendefinisikan image tentang arti tertentu yang diperoleh ketika orang menggunakan produk tersebut. Proses ini oleh Williamson (1978:20) disebut sebagai Using Product is Currency, yaitu menggunakan produk yang diiklankan sebagai uang untuk membeli produk kedua yang secara langsung tidak terbeli. 

Seperti contohnya iklan susu L-men yang dibintangi oleh seorang pria berotot dengan perut six pack. Iklan ini awalnya terlihat biasa saja namun sedikit demi sedikit iklan ini membentuk persepsi khalayak bahwa tubuh ideal seorang pria adalah harus yang seperti bintang iklan. Selain membeli produknya kita juga bisa bisa mendapatkan tubuh ideal seorang pria dengan perut six pack.




Contoh lainnya yaitu iklan susu WRP yang menampilkan seorang wanita yang memiliki tubuh langsing. Iklan ini membentuk persepsi khalayak bahwa wanita cantik harus memiliki tubuh yang langsing seperti bintang iklan susu WRP tersebut. Hal ini menjadikan setiap orang memiliki persepsi bahwa tubuh yang ideal bagi wanita adalah tubuh yang langsing.





Beberapa contoh iklan di atas tersebut merupakan contoh kekerasan simbolik yang terdapat dalam iklan, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari kekerasan simbolik dalam iklan sering kali menerpa masyarakat kita. Masyarakat tidak menyadari bahwa persepsi mereka telah dibentuk sedikit demi sedikit oleh iklan yang sering mereka lihat.

Pollay membagi fungsi komunikasi iklan menjadi 2:

Fungsi informasional, iklan memberitahukan kepada konsumen tentang karakteristik produk.

Fungsi transformasional, iklan berusaha untuk mengubah sikap-sikap yang dimiliki oleh konsumen terhadap merek, pola-pola belanja, gaya hidup, teknik-teknik mencapai sukses dan sebagainya.

Iklan Dalam Pemikiran Ilmuwan Sosial
Baudrillard          

Konteks iklan dalam pemikir Baudrillard yaitu bahwa iklan adalah bagian dari sebuah fenomena sosial bernama consumer society. Objek dalam iklan tidaklah berdiri sendiri melainkan dibentuk oleh sebuah system tanda (sign system) yang mengatur makna dari objek atau komoditas. Analisis Baudrillard berkontribusi dalam mengembangkan analisis mengenai produksi dan reproduksi pesan yang melibatkan peran dari citra (image) pada masyarakat kontemporer.



Barthes
Barthes menganalisa iklan sebagaimana layaknya seorang ahli linguistik, ia tertarik untuk membongkar makna dari pesan-pesan yang disampaikan lewat image maupun teks dalam media fenomena sosial lainnya. Makna ini dibongkar dengan terlebih dahulu menganalisa tanda-tanda yang merepresentasikan makna, dengan menggunakan semiotik sebagai kerangka analisa. Barthes memahami iklan sebagai signs yang mengatur makna yang ingin disampaikan oleh pembuat iklan. Makna ideologis yang dimiliki iklan dibuat senetral mungkin, proses signifikasi (pembuatan tanda/sign) yang kemudian disebut Barthes sebagai myth.


Iklan dengan konsep kekerasan simbolik Bourdieu


Bagi Bourdieu, seluruh tingkatan pedagogis (sarana pendidikan) baik itu yang diselenggarakan di rumah, sekolah, media atau dimanapun memiliki muatan kekerasan simbolik selama pelaku memiliki kuasa dalam menentukan system nilai atas pelaku lainnya. Diasumsikan bahwa media dan iklan merupakan sarana yang digunakan untuk melakukan tindakan pedagogis dari kelas/kelompok sosial tertentu. Iklan menjadi sebuah mesin kekerasan simbolik yang bisa menciptakan system kategorisasi, klasifikasi, dan definisi sosial tertentu sesuai kepentingan kelas/kelompok dominan. Image-image simbolik yang diproduksi iklan seperti misalnya kebohongan, keharmonisan, kecantikan, kejantanan, gaya hidup modern pada dasarnya merupakan system nilai yang dimiliki kelas satu atau kelompok dominan yang diedukasi dan ditanamkan pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Proses penanaman nilai melalui iklan dapat membentuk habitus tentang system nilai tersebut. Sehingga iklan tidak hanya menciptakan subjek yang dapat meregulasi diri terkait konsumsi produk namun juga subjek yang dapat merugalasi diri terkait klasifikasi dunia social, disini kemudian terjadilah kekerasan simbolik.

Selasa, 20 September 2011

Apa itu Jurnalisme Warga??


Oleh: Bapak Agus Sudibyo (14/09/2011)



Perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengubah format dan karakteristik jurnalisme. Pada era jurnalisme tradisional, wartawan memiliki semacam hak khusus untuk menjalankan tugasnya dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyajikan informasi kepada warga. Kini di era media internet setiap anggota masyarakat secara praktis dapat menjalankan fungsi sebagai  wartawan dan mengelola media sendiri. Keikutsertaan warga dalam berperan aktif  menyumbangkan informasi melalui media internet dikenal dengan Citizen Journalism.

Citizen journalism atau jurnalisme warga merupakan kegiatan jurnalistik yang menempatkan warga sebagai subyeknya, dimana warga secara aktif-partisipatoris terlibat dalam proses pencarian, pengolahan dan penyajian informasi. Dalam jurnalisme warga ini, setiap orang dapat menjadi informan sekaligus jurnalis.  Warga juga tidak hanya menjadi penonton, namun menjadi peserta aktif dalam diskusi dan problem solving di ruang publik media.

Munculnya juranalisme warga di latarbelakangi  oleh praktek media massa modern saat ini mayoritas tidak bisa memberikan feedback. Ruang media sebagai ruang publik deliberatif yang harusnya bisa membantu masyarakat menyelesaikan masalahnya seperti masalah kemiskinan, kebodohan dan korupsi mulai tidak dijalankan, karena media massa hanya mengangkat masalah-masalah kepermukaan namun tidak untuk diselesaikan tapi untuk dikomoditasi. Komoditasi bisa saja dilakukan media karena media juga membutuhkan rating, tapi masalah-masalah yang di angkat harus diselesaikan juga. 


Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya jurnalisme wraga. Faktor lain yang membentuk jurnalisme warga yaitu:

1.  Keterbatasan media dalam menangkap berbagai realitas yang majemuk, penting dan signifikan.

2.   Masyarakat hanya sebagai penonton pasif, bukan pelaku peristiwa.
3.   Keterbatasan akses warga ke media.
4.   Masyarakat hanya sebagai penonton pasif, bukan pelaku peristiwa.


Terlepas dari faktor terbentuknya jurnalisme warga tersebut, saat ini media massa mengalami autisme media yaitu media asyik dengan dirinya sendiri. Media menentukan skala prioritas pemberitaan berdasarkan agenda, nilai, orientasi dan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan minat, kepentingan dan kebutuhan pembacanya.

Oleh karena itu dengan adanya jurnalisme warga ini, publik tidak hanya akan menajdi penonton pasif tapi juga secara aktif dapat terlibat dalam mencari, mengelola dan menyajikan berita. Media televisi, radio dan media online juga kini memberikan kesempatan kepada pendengarnya maupun pembacanya untuk memberikan komentar dan berinteraksi satu sama lain. Namun kegiatan jurnalistik oleh warga ini ada baiknya menerapkan kode etik jurnalistik karena media merupakan ruang publik sosial yang memiliki etika dan prinsip.